Selama di tawan di Sukamiskin, Bung Karno boleh dibilang banyak mengalami penderitaan. Demikian pula ketika diputuskan oleh pemerintah penjajah ia harus dibuang, teman-teman seperjuangannnya sudah mengetahui bahkan Bung Karno akan diasingkan. Tapi tidak seorangpun yang tahu kemana dia akan dibuang. Karena itu teman-temannya berpesan kepasa Ibu Wardoyo agar bila sudah dapat kepastian kapan dan dimana Bung Karno akan dibuang, agar segera memberitahukan kepada mereka.
Namun kabar itu baru bisa diketahui Ibu Wardoyo beberapa saat menjelang Bung Karno akan diberangkatkan. Karena itu Ibu Wardoyo jadi pontang-panting berusaha mengabarkan perihal Bung Karno itu kepada teman-teman seperjuangannya. Ir. Anwari membantu Ibu Wardoyo menghubungi teman-teman Bung Karno lewat telepon. Terutama kabar tersebut disampaikan kepada Mr. Soejoedi yang sudah pesan wanti-wanti.
Ketika akan dibawa, dua jam Bung Karno dikuncikan di dalam WC stasiun kereta api Bandung yang kotor. Pemerintah Belanda memberitahukan bahwa Bung Karno jam 06.00 pagi baru akan dibawa ke stasiun. Tapi sejak jam 04.00 Bung Karno sudah berada di stasiun. Agar orang-orang tidak tahu, maka Bung Karno disekap di WC stasiun, yang kemudian stasiun ditutup untuk umum. Ibu Wardoyo dimasukan lebih dulu ke salam kereta api sehingga tidak tahu persis dimana di gerbong mana adiknya itu berada. Setelah beberapa saat kereta api berangkat, seorang pelayan yang ditugaskan mengantarkan makanan dan minuman, membisikan kepada Ibu Wardoyo di gerbong mana Bung Karno “disimpan”. Setelah mengetahui kabar tersebut, barulah hati Ibu Wardoyo agak lega.
Namun Bung Karno diperlakukan seperti orang yang menderita penyakit menular. Bahkanbukan Cuma Bung Karno, tapi seluruh isi kereta tersebut diperlakukan demikian. Tiap pintu dan jendela gerbong ditutup rapat hingga tidak tampak dari luar. Setiap kali kereta api masuk suatu stasiun, stasiun itu pun sudah ditutup untuk umum. Tidak ada seorang manusia pun di stasiun kecuali petugas-petugas perkereta-apian. Pokoknya kerata api yang membawa Bung Karno itu seperti membawa wabah, seorang pun tidak dibenarkan mendekati, apalagi melihat kedalam.
Tiba di stasiun Surabaya, Bung Karno cepat-cepat dibawa kedalam kapal dengan dijaga ketat. Tidak diizinkan dia menampakan diri dimuka umum. Orang-orang yang sejak lama menunggunyapun termasuk teman-teman dekatnya tidak ada yang berani mendekat. Mereka Cuma melihat Bung Karno dari jarak kejauhan. Itu pun dengan perasaan yang was-was. Karena berdekatan dengan Bung Karno saat itu amat berbahaya. Satu-satunya orang yang diizinkan oleh Belanda menaiki kapal yang akan mengangkut Bung Karno ke pembuangannya di Endeh, Flores, hanya Ibu Wardoyo.
Ketika kakak beradik itu berangkulan di atas kapal, Bung Karno memberikan pesan khusus kepada Ibu Wardoyo: “ setelah saya dibuang kelak, mbakyu tidak usah terlalu aktif lagi berjuang. Ini pesan saya. Tugas mbakyu adalah menjaga ibu dan bapak, karena ibu dan bapak tidak memiliki anak lagi selain kita berdua. Bila saya tidak ada dan mbakyu aktif berjuang hingga jauh dari ibu dan bapak, pasti kedua beliau akan susah. Ingat kita tidak boleh lebih menyusahkan ibu lagi. Cukup saya saja yang menjadi korban perjuangan. Satu hal lagi yang harus mbakyu ingat baik-baik, kira-kira sepuluh tahun lagi peperangan besar akan berkobar di pacific dan saat itulah kita akan merdeka. Mbakyu dan kawan-kawan harus bersiap-siap menyongsong kemerdekaan tersebut. Harus menyiapkan diri sejak sekarang”. Demikian pesan Bung Karno kepada kakaknya Sukarmini, alias Ibu Wardoyo, yang hingga sekarang masih diingatnya benar.
Katika raungan pertama peluit kapal, Ibu Wardoyo segera disuruh turun oleh Belanda. Tapi Bung Karno masih tetap tidak boleh menampakan diri, sementara diluar, di pelabuhan, banyak orang yang ingin melihat wajah Bung Karno. Peluit kedua berbunyi, tapi Bung Karno tetap belum diizinkan menampakan diri. Setelah peluit ketiga berbunyi dan kapal mulai bergerak, barulah Bung Karno diizinkan berdiri dibibir dek untuk memperlihatkan wajahnya kepada orang-orang yang sudah sejak subuh menunggunya di sepanjang pelabuhan. Melihat begitu banyak orang yang berbaris dipelabuhan ingin melihatnya, Bung Karno jadi amat terharu. Sambil menahan desakan air mata yang memberat di kedua kelopak matanya, Bung Karno melambaikan tangan kepada kemerdekaannya yang terampas. Melambaikan tangan kepada teman-teman seperjuangannya. Terus dan terus dia melambaikan tangan hingga akhirnya dia disuruh masuk kedalam oleh polisi Belanda, sementara kapalpun akhirnya hilang dari pandangan mereka yang tegak di sepanjang pelabuhan Surabaya.
iya..... bung
BalasHapusiya apa bung?
BalasHapus