Minggu, 06 Mei 2012

BUNG KARNO JUAL SABUN DAN TELUR

Setelah Bung Karno  meneruskan sekolahnya ke Bandung dia makin populer. Yang dimaksudkan, Bung Karno bukan cuma populer di kalangan pejuang-pejuang kebangsaan, tapi juga dikalangan Belanda. Polisi Belanda kian rajin mengikuti gerak-gerik Bung Bung Karno . Boleh dikatakan siang maupun malam Bung Karno diawasi terus menerus. Karena itu tidaklah mengherankan bila Bung Karno menjadi kian sering berurusan dengan polisi penjajah itu. Makin sering dipanggil ke kantor polisi, makin sering dimintai pertanggungjawaban seputar gerak-gerik kegiatannya dan makin sering masuk penjara.
            Dalam kisah perjalanan hidupnya, masa muda Bung Karno kemudian dia bercerai dari Utari dan kawin dengan Inggit. Meskipun dalam kehidupan rumah tangganya tampak lebih bahagia dan senang, tapi kehidupan ekonomi boleh dikatakan kian melarat. Tidak jarang saat itu Bung Karno dan Inggit hanya mampu menyediakan the tawar tanpa kue kepada tetamunya.
Salah satu penyebab kemiskinan Bung Karno ialah dia tidak pernah mencurahkan waktu dan perhatiannya secara penuh untuk bekerja. Waktu dan perhatiannya lebih banyak dicurahkan untuk perjuangan. Sebenarnya dengan menulis artikel-artikel di Koran-koran atau majalah waktu itu, Bung Karno bisa mendapatkan banyak penghasilan, karena tulisannya selalu menarik perhatian orang. Tapi hal itu tidak dikerjakan olehnya. Bukannya sudah tidak senang dengan pekerjaan tulis-menulis itu, tapi karena tulisannya dilarang disiarkan oleh pemerintah Belanda. Meskipun sudah diusahakan menggunakan banyak nama samaran, tapi pada akhirnya pemerintah Belanda tahu juga. Itulah sebabnya Bung Karno tidak bisa bebas menulis. Padahal dengan menulis, selain bisa mendapatkan uang, Bung Karno juga bisamenyampaikan buah pikirannya kepada masyarakat dan pengikut-pengikutnya.
Pernah juga Bung Karno membuka biro arsitek bersama Ir. Anwari, tapi usaha itu tidak banyak membantu bun Bung Karno . Sebab Bung Karno yang senantiasa lebih banyak memusatkan perhatiannya pada perjuangan bangsanya itu, kadangkala “menyeret” Ir. Anwari kedalam kegiatannya. Akibatnya kedua pelaksana dan pemimpin biro arsitek itu tidak sempat memikirkan bironya. Itulah sebabnya kemudian Bung Karno meninggalkan biro arsitek tersebut dan kembali hidup tanpa kerja tetap.
Saat itu bila Bung Karno  ditangkap, Ibu Wardoyo lalu dipanggil untuk menemani Inggit. Dia dan Inggit seringkali mencari nafkah bersama. Lebih-lebih bila Bung Karno sedang berada dalam penjara. Salah satu usaha yang dilakukannya untuk mencari uang adalah berjualan sabun dan telur. Lama juga dia berjualan telur dan sabun itu untuk membiayai rumahtangga Bung Karno dan Inggit. Dikatakan oleh Ibu Wardoyo, bila Bung Karno sedang berada dalam penjara, dia dan Inggit lah yang paling rajin menjenguk, karena ayah dan ibu berada jauh di Blintar, sedangkan teman-teman Bung Karno yang lain seringkali tidak diizinkan menjenguk Bung Bung Karno .
Setiap kali Ibu Wardoyo dan Inggit pulang dari menjenguk Bung Karno di bui, teman-teman seperjuangannya sudah menunggu di rumah. Mereka ingin mengetaahui kabar tentang Bung Karno dan ingin mendapatkan pesan-pesan Bung Karno untuk mereka itu.
Sebenarnya banyak petugas penjara yang memihak Bung Bung Karno . Lebih-lebih di kalangan pegawai rendangan dan yang berjiwa nasionalis. Dari mereka inilah kemudian Bung Karno mendapatkan kesempatan untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Meskipun sel tempat Bung Karno disekap di Banceuy berukuran satu kali satu setengah meter dan tidak berjendela, tapi kemudian dia bisa melakukan “kontak” dengan teman-teman di luar melalui pegawai penjara yang bersimpati kepadanya. Sariko, adalah penjaga yang pertama kalimenunjukan sikap dan memperlihatkan simpatinya kepada Bung Bung Karno . Dialah yang kemudian banyak memberikan buku, dan surat kabar pada Bung Bung Karno . Padahal buku dan lebih-lebih surat kabar, tidak boleh sampai ketangan Bung Bung Karno . Macam-macam surat kabar itu diselundupkan kedalam. Ada yang dengan cara dibungkus di dalam handuk dan diberikan di kamar mandi, ada pula yang disisipkan dibawah baki ketika Bung Karno diberikan makanan.
Namun tidak semua pegawai penjara menyukai Bung Bung Karno . Bahkan banyak orang kita yang justru lebih kejam dan lebih ganas dari pada Belanda-nya sendiiri. Sebaliknya, ada orang Belanda di penjara Banceauy yang menjadi sahabat Bung Bung Karno . Namanya Bos dan seringkali diajak begurau, meskipun dia tidak pernah memberikan bantuan seperti yang diberikan oleh petugas-petugas penjara, seperti Sariko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar